Sunday
2018-12-16
9:14 PM
SHARE
Parung on Facebook
Parung

member on facebook
KALENDER
«  March 2011  »
SuMoTuWeThFrSa
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031
Recommendations
Entries archive
Our poll
Rate my site
Total of answers: 2
Site friends
BudaxCiook Almanhaj
Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0

P a r u n g

Main » 2011 » March » 10 » Meneladani Nabi Muhammad SAW
3:05 PM
Meneladani Nabi Muhammad SAW



Sahabatku...
Kita punya cara untuk mengenang orang paling mulia di dunia, Nabi Muhammad saw.
Catatan ringkas ini semoga menjadi renungan buat kita.
Berteladan kepada Nabi saw. Dia sejatinya uswah, pasti tidak akan membuat kita kecewa !



1)
Kalau ada pakaian yang koyak, Nabi saw menambalnya sendiri tanpa perlu
menyuruh isterinya. Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan
keluarga maupun untuk dijual.




2)
Setiap kali pulang ke rumah, bila belum tersaji makanan karena masih
dimasak, sambil tersenyum beliau menyingsingkan lengan bajunya untuk
membantu isterinya di dapur. Aisyah menceritakan bahwa kalau Nabi berada
di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga.




3) Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudahnya.



4)
Pernah beliau pulang menjelang pagi hari. Tentulah beliau teramat lapar
waktu itu. Namun dilihatnya tiada apa pun yang tersedia untuk sarapan.
Bahkan bahan mentah pun tidak ada karena ‘Aisyah belum ke pasar. Maka
Nabi bertanya, "Belum ada sarapan ya Khumaira?’  Aisyah menjawab dengan
agak serba salah, ‘Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.’ Rasulullah
lantas berkata, ‘Jika begitu aku puasa saja hari ini.’ tanpa sedikit
tergambar rasa kesal di raut wajah beliau.




5)
Sebaliknya Nabi saw sangat marah tatkala melihat seorang suami sedang
memukul isterinya. Rasulullah menegur, ‘Mengapa engkau memukul
isterimu?’ Lantas lelaki itu menjawab dengan gementar, "Isteriku sangat
keras kepala! Sudah diberi nasihat dia tetap membangkang juga, jadi aku
pukul dia.” Jelas lelaki itu.

"Aku tidak bertanya alasanmu,” sahut Nabi saw.
"Aku menanyakan mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu dari anak-anakmu?”



6)
Kemudian Nabi saw bersabda,”Sebaik-baik suami adalah yang paling baik,
kasih dan lemah-lembut terhadap isterinya.’ Prihatin, sabar dan
tawadlu’nya beliau dalam posisinya sebagai kepala keluarga langsung
tidak sedikitpun merubah kedudukannya sebagai pemimpin umat.




7)
Pada suatu ketika Nabi saw menjadi imam shalat. Dilihat oleh para
sahabat, pergerakan Nabi antara satu rukun ke rukun yang lain agak
melambat dan terlihat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi gemeretak
seakan sendi-sendi di tubuh Nabi mulia itu bergeser antara satu dengan
yang lain. Lalu Umar ra  tidak tahan melihat keadaan Nabi yang seperti
itu langsung bertanya setelah shalat.

‘Ya Rasulullah, kami melihat sepertinya engkau menanggung penderitaan yang amat berat. Sakitkah engkau ya Rasulullah?”
"Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat wal ‘afiat.”
"Ya
Rasulullah.. .mengapa setiap kali engkau menggerakkan tubuh, kami
mendengar suara gemeretak pada sendi-sendi tulangmu? Kami yakin engkau
sedang sakit…” desak Umar penuh cemas.

Akhirnya
Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Ternyata
perut beliau yang kempis, kelihatan dililit sehelai kain yang berisi
batu kerikil, untuk menahan rasa lapar beliau. Batu-batu kecil itulah
yang menimbulkan bunyi gemeretak setiap kali bergeraknya tubuh beliau.

"Ya
Rasulullah! Apakah saat engkau menyatakan lapar dan tidak punya
makanan, kemudian kami tidak akan mengusahakannya buat engkau?’




Lalu
Nabi saw menjawab dengan lembut, "Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa
pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di
hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada
umatnya?’ ‘Biarlah kelaparan ini

sebagai
hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di
dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”




8) Nabi saw pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang dipenuhi kudis, miskin dan kotor.



9)
Beliaupun hanya diam dan bersabar ketika kain sorbannya ditarik dengan
kasar oleh seorang Arab Baduwi hingga berbekas merah di lehernya.
Begitupun dengan penuh rasa kehambaan beliau membersihkan tempat yang
dikencingi seorang arab Baduwi di dalam masjid sebelum beliau tegur
dengan lembut perbuatan itu.




10)
Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH swt dan rasa penghambaan yang
sudah menghunjam dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa
ingin diistimewakan (dipertuan).




11)
Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH langsung tidak dijadikan
sebab untuknya merasa lebih dari yang lain, ketika di depan keramaian
(publik) maupun saat seorang diri.




12)
Pintu Syurga terbuka seluas-luasnya untuk Nabi, namun beliau masih
tetap berdiri di sepinya malam, terus-menerus beribadah hingga pernah
beliau terjatuh lantaran kakinya bengkak-bengkak.




13)
Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi. Bila
ditanya oleh ‘Aisyah, ‘Ya Rasulullah, bukankah engaku telah dijamin
Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?’ Jawab baginda
dengan lembut, ‘Ya ‘Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba?
Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.’




"Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah." 
(QS Al-Ahzab:21)




Katakanlah
(Muhammad): "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku
(Muhammad), niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
 (QS Ali Imran :31)




آللّهُمَ صَلّیۓِ ۈسَلّمْ عَلۓِ سَيّدنَآ مُحَمّدْ وَ عَلۓِ آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ




Sumber

Category: Renungan | Views: 172 | Added by: parung | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
Name *:
Email *:
Code *: